Alam Cidera banjir Menyapa

0
7
banjir
banjir

Disadari atau tidak, alam sudah banyak memberikan kebutuhan pokok yang kita butuhkan, mulai dari sandang, papan dan pangan. Hanya saja, manusia terkadang serakah dan merasa tidak cukup dengan itu semua sehingga sumber daya alam kemudian dieksploitasi guna memenuhi kebutuhan sekunder tanpa memperhatikan keberlangsungannya. Terlebih dengan maraknya pembangunan dan industrialisasi yang lebih mengedepankan aspek ekonomi.

Banjir yang melanda sejumlah daerah di Jawa tengah menurut hemat penulis, secara gamblang telah menjawab bagaimana keserakahan manusia atas alam. Pengalihan kawasan hutan menjadi kawasan industri menjadikan air hujan tak dapat ditapung dan banjir lebih mudah menerjang. Konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) atau ekonomi hijau (greeneconomy) yang beberapa tahun terakhir telah digaungkan oleh pemerintah dan para akademisi, ternyata hanyalah pemanis belaka.

Ahli Ekologi-Politik seperti Forsth (2003) dalam bukunya Critical Political Ecologi, penggunaan sumber daya alam yang semakin banyak tanpa mempertimbangkan efek kelanjutannya, akan gerdampak buruk bagi kelangsungan alam itu sendiri dan manusia pada umumnya. Maka dari itu, sumber daya alam harus diselamatkan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Dalam pandangan antroposentrisme, alam ditempatkan oleh manusia sebagai obyek eksploitasi untuk kepentingan manusia itu sendiri (human contered ethics). Penempatan ini secara langsung telah mendiskreditkan kebeadaan alam sebagai penyeimbang kehidupan manusia di bumi. Alam dengan sendirinya tumbuh dan berkembang, kemudian manusia seenaknya membabibuta mengambil kandungan-kandungan terbaik alam tanpa memperhatikan efek jangka panjangnya. Kerjasama antara manusia dengan alam sekitar nampak tidak ada sama sekali. Padahal ada kebersamaan antar mahluk hiduplah yang mampu membentuk atanan bumi menjadi harmoni dan lestari.

Seharusnya kita sebagai manusia lebih menggunakan pandangan biosentrisme dalam memenfaatkan dan mengelola alam. pandangan biosentrisme ini mengajarkan bahwa manusia bisa bersinergi dengan alam, berjalan beriringan, dan membangun kerjasama yang efektif dan efisien. Alam mempunyai nilai yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Dalam pandangan biosentrisme ini, semua keidupan didunia memiliki moral dan nilai yang sama sehingga wajib untuk dilindungi, diselamatkan dan dipelihara sebaik mungkin.

Baca:  Inilah Kehawatiran Barat Terhadap Umat Islam

Namun, kita sebagai manusia yang numpang hidup di bumi ini merasa sudah memiliki alam. Padahal, alam  terlebih dahulu ada sebelum manusia diciptakan oleh Tuhan. Karena itulah para filosof Yunani kuno menerapkan alam sebagai sumber kebijakan. Bahkan apabila manusia ingin memperoleh keutamaan hidup, manusia dianjurkan untuk berdamai dengan alam dan meniru perilaku alam semesta ini.

Menjaga Ekosistem

Apa yang sudah ditampakkan oleh alam yang berupa banjir di Jawa Tengah, merupakan panggilan untuk senantiasa menjaga dan melestarikan ekosistem. Sekaligus bencana ini juga merupakan kritik total terhadap kebijakan pemerintah daerah yang berupaya menjadikan kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih yang tersebar di beberapa pegunungan di Jawa Tenga  menjadi kawasan industri.

Pemerintah daerah dan masyarakat harus sadar bahwa Jawa Tengah saat ini sedang krisis ekologi. Daya dukung lingkungan juga semakin berkurang akibat ulah manusia, entah itu oknum masyarakat, pejabat, pihak swasta yang berlebihan dalam pemanfaatan sumber daya alam. Semakin lebarnya pemerintah memberikan peluang kepada investor untuk membangun pabrik pertambangan di wilayah Jawa Tengah, maka semakin besar pula ancaman terjadinya bencana yang akan datang. Sebab, banyak pertambangan yang tidak memperhatikan kelangsungan ekosistem.

Disadari atau tidak, krisis ekologi mempunyai dampak yang berantai yang bisa berimbas pada krisis sosial, ekonomi dan politik, bahkan bisa menyebabkan konflik sosial. Kerugian materiil yang ditanggung akibat banjir dan tanah longsor karena minimnya daya dukung lingkungan, secara langsung juga akan berdampak terhadap ekonomi, sosial dan politik.

Data Indeks Risiko Bencana yang disusun Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB) beberapa tahun terakhir selalu menempatkan Jawa sebagai pulau paling rentan bencana jenis ini. Dari 118 kabupaten atau kota di Jawa, sebanyak 94 di antaranya memiliki risiko banjir sangat tinggi. Adapun 110 kabupaten atau kota di antaranya berisiko mengalami kekeringan (Kompas, 30/12/15).

Baca:  Mati Surinya Kesenian Daerah Kita

Untuk itu, pemerintah daeah Jawa Tengah dan masyarakat mempunyai tanggung jawab terhadap pemeliharaan lingkungan dan alam disekitar kita. Sebab apabila ekosistem terganggu maka secara otomatis akan menganggu eksistensi manusia pula. Memelihara dan melestarikan lingkungan hidup  bukan hanya sekedar masalah sosial, ekonomi politik, estetika, dan lain sebagainya, tetapi lebih dari pada itu.

Alam yang menyediakan sandang, papan dan pangan sudah selayaknya untuk kita jaga dan kita lestarikan untuk kelangsungan anak cucu dan negerasi generasi setelahnya. Apabila alam diciderai, dieksploitasi, dan hutan digunduli, maka yang terjadi bencana alam akan datang menyapa, banjir melanda, tanah longsor terjadi dimana-mana.

Kini sudah saatnya kita sadar akan posisi kita sebagai manusia yang merupakan bagian integral dari alam. Manusia bukanlah penguasa alam yang bebas mengeruk, mengekspliotasi dan merusaknya. Ketidak berdayaan kita sebagai manusia dihadapan alam sudah nampak jelas ketika bencana datang menyapa. Dan pada akirnya, marilah kita berdamai dengan Alam.

Sedang memuat...