Membuka Pintu Surga dengan Cinta dan Kasih Sayang

0
155
pintu surga
pintu surga

Rasa cinta dan kasih sayang adalah anugerah Allah yang Maha Pemurah. Setiap manusia sudah pasti memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Wujudnya bisa beraneka macam. Tergantung pada pengalaman hidup masing-masing setiap manusia, gaya hidup, dan persepsi manusia tentang makna cinta dan kasih sayang itu sendiri. Cinta dan kasih sayang itu bukan hanya sekedar jaminan antara seorang laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak, atau antarsaudara dalam sebuah hubungan keluarga.

Lebih dari itu, rasa cinta dan kasih sayang itu bisa juga muncul dalam hubungan antar sesama manusia. Bahkan, rasa cinta dan kasih sayang itu dapat ditunjukkan pula kepada seluruh mahluk Tuhan Yang Maha Sebenarnya. Hal inilah yang kerap luput dari perhatian manusia. Jangankan kepada mahluk lainnya kepada sesama manusia sendiri terkadang kita sering bersikap seakan-akan tidak memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Hal itu ditunjukkan dengan adanya permusuhan, balas dendam, pertengkaran dan berbagai macam lainnya.

Jangankan pula terhadap sesama manusia, terhadap saudara dan ahli kerabatnya sendiri pun  manusia jarang menepiskan rasa cinta dan kasih sayangnya jauh-jauh. Sehingga yang muncul adalah tindakan kekerasan serta tiadanya rasa penghormatan dan pemuliaan terhadap sesama mahluk Tuhan.

Banyak faktor yang telah menyebabkan manusia akhirnya kehilangan rasa cinta kasih sayangnya kepada sesama mahluk Tuhan. Di antaranya adalah karena masih terhijabnya rasa cinta dan kasih sayang itu oleh rasa keakuan yang besar. Misalnya merasa benar dengan pendapat dan tindakannya sendiri, merasa lebih bisa dari pada orang lain, merasa lebih hebat dari pada orang lain, dan merasa lebih baik dari pada orang lain.

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah Saw pernah mengingatkan umatnya, bahwa yang dapat memupuk rasa kasih sayang diantara sesama manusia itu adalah menyebarkan salam. Salam itu berisi doa. Jadi, sejatinya, bukan pada ucapan salamnya itu sehingga kita menjadi cinta dan dan kasih kepada sesama manusia. Melainkan lebih cenderung pada makna, bahwa kita mendoakan kebaikan dan kesejahteraan serta keselamatan dunia dan akirat bagi orang lain. Sebab, setiap kali seseorang berdoa, aka nada malaikat yang selalu mengamininya seraya berkata: “semoga untukmu juga demikian.”

Dengan demikian, cinta dan kasih sayang kepada sesama mahluk Tuhan akan dapat kita miliki, manakala kita senang mendoakan orang lain, meski kita tidak mengenalnya atau bahkan belum pernah bertemu dengannya. Misalnya dengan berdoa,; “ya Allah, berkahilah dan rahmatilah di dunia sampai akhirat, siapa saja yang pernah bertemu denganku, siapa saja yang pernah ku kenal dan mengenalku, maupun mereka yang sama sekali tidak kukenal dan tidak mengenalku.”

Baca:  Membuka Pintu Surga dengan Menjaga Lisan

Bentuk lain dari pada wujud rasa cinta dan kasih sayang itu adalah saling mengunjungi karena Allah. Terkadang kita lupa bahwa sebagai manusia, kita merupakan mahluk sosial yang mengharuskan kita untuk berdampingan dengan orang lain. Karena itulah kita seharusnya saling mengunjungi mereka karena Allah. bagaimana kita tahu kalau kunjungan tersebut adalah karena Allah? apakah ketika kita memiliki sesuatu dengan orang yang kita kunjungi itu, berarti hal itu tidak karena Allah? sudah barang tentu maksudnya tidaklah demikian.

Sebuah kunjunagn kepada kerabat ataupun kawan akan menjadi dilaukan karena Allah manakala kita akan berangkat untuk mengununginya, kita mendahuluinya dengan niat menyambug tali silaturrahmi. Kemudian kita juga mendoakan kebaikan bagi orang yang akan kita kunjungi itu. Inilah yang dimaksud dengan berkunjung karena Allah, meskipun secara lahiriah kita memiliki kepentingan dengan orang yang akan kita kunjungi tersebut.

Bagaimana dengan cinta seseorang hamba kepada Allah dan Rasulullah Saw? Seorang mukmin yang cinta kepada Allah akan dengan senang hati  mengikuti apa  saja yang diperintahkan oleh-Nya serta selalu taat kepada-Nya. Sepanjang hidupnya, yang dicari hanyalah keridhaan dari dzat yang di dintainya. Salah satu bentuk dari kecintaan kepada Allah adalah megikuti apa yang menjadi sunnah Rasulullah Saw.

Sebagaimana terdapat dalam al-Qur`an surah Ali Imran ayat 31; Katakanlah: “Jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Begitu pula dengan orang yang mengaku cinta kepada Rasululah, konsekuansi dari rasa cinta itu adalah selalu berjalan searah dengan yang dicintainya. Salah satu wujud cinta kepada Rasulullah adalah dengan selalu bersholawat untuknya dan selalu menegakkan sunnah-sunnahnya.

Baca:  Keistimewaan dan Keutamaan Sholat Jumat

Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah mengatakan bahwa salah satu bukti seseorang yang mencitai beliau adalah ia harus rela menjadi miskin. Perhatikan saja bagaimana bunyi dari pada hadis tersebut; “barang siapa yang mengaku cinta kepadaku, maka bersiap-siaplah untuk menjadi miskin. Sebab kemiskinan akan datang kepada orang-orang yang mencintaiku itu seperti air bah yang mengalir turun ke jurang.” Sabda Rasulullah tersebut merupakan sebuah isyarat bagi orang-orang yang ingin mencintai Rasulullah, bahwasannya orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya iyu sudah sepatutnya tidak mengutamakan harta duniawi.

Menurut Imam al-Ghazali, orang yang mencintai Allah dan Rasul-nya itu sudah seyogyanya mampu mengatasi tujuh ujian keikhlasan. Pertama, tidak takut mati, karena kematian itu adalah pintu gerbang untuk bisa bertemu dengan Zat yang dicintainya. Kedua, rela mengorbankan kehendaknya demi menjalankan kehendak Allah. ketiga, hatinya selalu ingat kepada Allah. keempat, mencintai Allah dan Rasulullah serta seluruh mahluk-Nya. Kelima, tidak pernah merasa bosan dalam beribadah, bahkan selalu rindu untuk senantiasa melakukan ibadah. Keenam, tidak pernah merasa susah dan terbebani dalam menjalankan ibadah, serta selalu merasa ringan dan senang dalam melaksanakan ibadahnya. Ketujuh, mentaati Allah dan tidak menyukai perbuatan yang mengingkari atau kafir kepada Allah.

Apabila tujuh ujian keikhlasan itu dapat diatasi oleh seorang hamba, paling tidak, menurut Imam al-Ghazali, ada empat tanda utama yang dapat dilihat pada diri seseorang yang benar-benar mencintai Allah dan rasul-Nya tersebut. Pertama, ia beramal dengan penuh ketaatan. Kedua, mencintai para ulama dan kaum fakir miskin. Ketiga, meningalkan hal-hal yang maksiat. Keempat, tidak pernah mengeluh miski tengah menghadapi musibah yang berat sekalipun.

Beriku ini ada beberapa pesan yang berkaitan dengan rasa cinta dan kasih sayang yang dimiliki manusia, yang jika ditempatkan pada porsinya, akan membawa manusia itu ke dalam surga Allah. dalam sebuah hadis riwayat Anas bin Malik r.a. Rasulullah bersabda, “ barang siapa cinta kepada sunnahku (Nabi Saw) maka sesungguhnya ia telah cinta padaku.”

Baca:  Menghidupkan semangat Al Ma’un

Selain itu, ada juga wasiat dari Sayidatina `Aisyah r.ah. bahwa barang siapa cinta kepada Allah SWT, maka ia akan banyak menyebut-Nya. Hasilnya adalah ia akan diingat Allah, diberi rahmat dan ampunan-Nya, di masukkan ke dalam surga bersama para nabi dan kekasih Allah, serta dapat melihat keindahan-Nya.  Barang siapa yang cinta kepada Nabi Saw, maka ia akan bershalawat untuk nabi Saw. Hasilnya adalah ia akan memperoleh syafaat nabi Saw dan berteman dengan beliau di surga.

Sedang memuat...