Beragama dan Berpancasila

0
54
Gerakan radikalisme di Indonesia
Gerakan radikalisme di Indonesia

Keberagaman keagamaan  di Indoensia sebagai bentuk pluralitas, kian terusik ketika banyak kelompok radikal ekstrimis yang mengekspresikan keyakinanya secara berlebihan. Mengkafirkan kelompok lain dan mengunggulkan kelompoknya sendiri. Konflik keyakinan antar kelompok adalah konsekuensi logisnya. Perpecahan sudah pasti terjadi.

Ditambah lagi dengan ulah para teroris semakin hari kian mengusik ketentraman masyarakat Indonesia.  Terorisme dengan dalih jihad menegakkan agama Allah (Islam) justru mengkerdilkan Islam. Islam sebagai agama perdamaan, sekarang banyak diinterpretasikan sebagai hantu sosial.

Indoensia sebagai negara  demokrasi yang menjamin dan menjaga adanya pluralitas, semua masyarakat sudah pasti mempunyai hak untuk mengekspresikan keyakinanya masing-masing. Akan tetapi ekspresi keyakinan tersebut harus disertai dengan kesadaran adanya perbedaan. Kesadaran inilah yang kemudian bisa membentuk harmoni antar umat manusia.

namun, realitasnya jutsru barbanding terbaik. Banyak dari kelompok masyarakat yang mengekspresikan keyakinanya diruang publik, tapi tidak menerima adanya perbedaan dengan keyakinan lain. Jika semua  kelom pokaliran semacam ini, maka pluralitas dan kerukunan yang sudah lama terbangun, akan runtuh dengan seketika. Terlebih saat ini banyak aliran-aliran maupun sekte-sekte yang  terus bersaing. Ini menjadi momok menakutkan tersendiri jika kita tidak mampu menerima perbedaan secara sportif.

menurut pakar sosiologi politik, Noorhaidi Hasan (2012) perlu adanya manageman of religiusmen untuk mengelola keberagaaman keagamaan yang ada di Indoensia. Meskipun di Indonesia dikenal sebagai negara plural, akan tetapi pluralitas itu akan tenggelam jika tidak di-manage dengan baik. kesalahan kita saat ini adalah karena kurangnya manage keyakinan dari berbagai aliran yang kemudian tidak bisa menerima perbedaan keyakinan lainnya.

Jika masing-masing kelompok aliran itu mempunyai manageman of religiusman yang baik, maka tidak akan ada yang namanya pengkafiran, penistaan agama ataupun pelabelan kelompok sesat. Semua klaim-klaim itu muncul adalah kerena kita sebagai bangsa yang plural, masih mengunggulkan identitas masing-masing. Padahal di negara yang plural seperti indonesia ini, perbedaan identitas justru diakui tanpa harus mengunggulkannya.

Baca:  Menilik Diskriminasi Petani Tebu di Desa Wonokerto,Trangkil, Pati, Jawa Tengah

Alwi Shihab mengatakan bahwa prinsip lain yang digariskan oleh Al-Qur`an adalah pengakuan eksistensi orang-orang yang berbuat baik dan setiap komunitas beragama (berkeyakinan) dan dengan begitu, layak memperoleh pahala dari Tuhan.  Pluralisme, lanjut Alwi, tidak semata menunjukkan pada keyataan tentang adanya kemajemukan. Namun yang dimaksud adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut.

Jadi yang menjadi patokan sebenarnya bukan pada perbedaan keyakinan yang kemudian menimbulkan konflik, akan tetapi bagaimana kita bisa menerima perbedaan keyakinan itu dan bisa terlibat aktif dalam perbedaan tersebut.

Berpancasila

Hidup di Indonesia harus menghargai adanya pluralitas sebab pluralitas adalah suatu implikasi dari sikap toleran dan kesediaan untuk menerima dengan biak kenyataan beneragaman. Sikap yang mengnggulkan keyakinan sendiri adalah sama dengan masyarakat jahiliah. Karakter masyarakat jahiliyah tidak bisa menerima perbedaan bagai manapun bentuknya. Perang menjadi solusi masyarakat jahiliah ketika ada kelompok yang bertentangan dengan keyakinanya. Hal ini sangat tidak relevan dengan Indonesia.

Bercermin pada para founding father, sebenarnya bangsa Indonesia sudah ditunjukkan jalan bagaimana merawat dan menjaga kemajmukan tersebut. Melalu iperdebatan panjang, Pancasila lahir sebagai ideologi negara, adalah kunci untuk menjaga kemajemukan tersebut. Pancasila mempunyai nilai-nilai dasar yang dapat kita aktualisasikan untuk menjaga kerukunan dan perdamaian.

Pancasila juga merupakan suatu dasar negara yang mengusung pluralitas. Indonesia yang terdiri dari 223 suku, 6 agama dan berbagai bahasa daerah yang disatukan oleh bahasa Indonesia, tentunya memerlukan pemersatu dari berbagai perbedaan yang ada. Dan pemersatu itu hanya ada dalam pancasila sebagai ideologi negara.

Selama ini, pancasila hanya dijadikan bahan diskusi panjang dari mulut ke mulut tanpa ada aplikasi riilnya. Banyak orang yang mengerti bunyi pancasila, akan tetapi tidak bisa mengaktualisasikan butir-butir pancasila tersebut dalam bermasyarakat. Seharusnya tidak ada yang namanya penistaan agama ataupun konflik keyakinan jika kita bisa mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila tersebut.

Baca:  Kejahatan dan Nafsu Kebinatangan

Bahkan bung karnoe mengatakan bahwa pancasila sebagai ideologinegara tidak saja sebagai catatan kosong, akan tetapi merupakan “butiran emas”  untuk menuju kehidupan bersama yang menghormati, mengjargai danmemberi tempat bagi nilai-nilai plural bangsa. Sadar atau tidak,hanya pancasila yang mampu menjamin adanya kemajemukan di Indonesia. Itu sebabnya mengapa dalam berbangsa kita tidak boleh melupakan nilai-nilai pancasila.

Dalam sila pertama misalnya, ‘ketuhanan yang maha esa’, masyarakat Indonesia berhak memilih agama manamun adan keyakinan apapun.  Negara tidak pernah mematok agar masyarakat Indonesia hanya beragama Islam. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghormati agama-agama maupun keyakinan diluar diri kita masing-masing. Hal itu dipertegas dengan sila ke-dua yang menyebutkan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab.

Dari sekian banyaknya aliran dengan gerakannya yang kian masif dan terus bermunculan di Indonesial, yang perlu kita lakukan adalah memegang teguh nilai-nilai pancasila. Menurut Budhy Munawar Rachman, dalam negara yang majemuk, Identitas tidak perlu menimbuklan konflik,sebab dalam pluralisme, identitas justru diakui. Bahkan dalam politik multikulturalisme,  pemerintah justru harus melindungi dan membantu kelompok minoritas.

Terakhir, untuk itu kita harus kembali pada nilai-nilai pancasila yang mengusung pengakuan adanya perbedaan, saling menghormati dan mengargai. Dengan demikian, tidak ada yang namanya konflik antara kelompok, suku, ras keyakinan ataupun yang lainnya. [Nur Kholis Anwar]

Sedang memuat...