Harga Jual Bambu Lesu di Pasaran

    0
    149
    Penjual Bambu
    Penjual Bambu

    Pati, netizenia.com- Berbada dengan komoditas lainnya, harga bambu justru lesu di pasaran. Pasalnya minat masyarakat untuk membeli bambu masih sangat minim. Hal itu dikarenakan minimnya pembangunan rumah ataupun gedung yang membutuhkan banyak bambu sebagai tiang penyangga kontruksi bangunan.

    Jamin, salah satu penjual bambu di Desa Tambaharjo, kecamatan Pati mengaku sepi pembeli. Sebelumnya dia sudah memprediksi bahwa pembeli bambu akan menurun derastis pada saat tahun baru. Diperkirakan anomo pembeli akan meningkat pada bulan april mendatang.

    “Saya sebagai penjual bambu hanya mengandalkan para pemborong atau kontraktor bangunan. Kalau mereka sepi proyek, saya juga sepi pembeli. Akan tetapi kalau proyek lancar, berapapun jumlah bambu yang saya punya, pasti habis,” jelas Jamin kepada Harian Pati Kemarin.

    Dia mengaku, dari bulan desember 2016 hingga awal tahun 2017 ini, paling-paling hanya ada beberapa pembeli saja. Itu pun hanya sedikit. Dalam satu hari, bambu terkadang hanya terjual satu biji dengan harga Rp. 20-25 ribu.

    “Dibilang sepi memang iya. Bulan Januari saja, saya hanya ada beberapa pembeli. Bahkan teman saya yang berada di Kayen juga sama. Rata-rata memang masih sepi,” tambahnya.

    Untuk menjual bambu, Jamin juga harus memilih bambu-bambu yang lurus dan tahan lama. Sebab, kalau bambu tersebut tidak lurus dipastikan tidak akan terjual. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Jamin mengambil bambu dari daerah Blora. Sementara untuk bambu di Pati rata-rata kurang kuat dan banyak yang bengkok.

    “masyarakat itu kalau mencari bambu pasti pilih yang lurus-lurus, kalau yang bengkok ya tidak mau. Sementara saya juga tidak mau ambil resiko, makannya saya mengambil bambu dari Blora yang bentuknya sudah lurus dan besar-besar,” ungkapnya.

    Baca:  Keramat KH. Ahmad Nafi’ Abdilla

    Hal senada juga diungkapkan oleh Suharto,  salah seorang penjual bambu Wedarijaksa. Bahkan bambu yang sudah dia pasarkan sudah mulai mengering. Padahal, kalau bambu sudah mengering harganya semakin berkurang. Selain itu, masyarakat juga enggan untuk membelinya.

    “Sudah hampir dua bulan ini sepi pembeli. Sampai-sampai bambu yang saya jual sudah mulai kering. Otomatis harganya berkurang. Bahkan sudah ada yang saya bawa pulang karena tidak ada yang membeli,” paparnya.

    Untuk mengatasi lesunya pembeli tersebut, para penjual bambu haya bisa menunggu pelanggan. Terlebih dari sisi ekonomi, jualan bambu tidak begitu menguntungkan. Hanya saja, mereka dapat untung besar pada saat ada pesanan dari konraktor.

    “Mau tidak mau, ya harus menunggu sampai bulan april mendatang. Kalau masih sepi pembeli, mungkin saya akan beralih menjual yang lainnya. Tapi kemungkinan besar april para penjual bambu laku keras. Karena sudah ada informasi kalau bulan april banyak kontraktor yang membangun gedung di Pati,” tandasnya.(Ntz)

    Sedang memuat...