Menghidupkan semangat Al Ma’un

0
363
Qur`an
Qur`an

Al Qur’an sebagai kitab terakhir yang di turunkan Tuhan kepada umat manusia sebagai petunjuk sekaligus pedoman dalam menjalani hidup, dalam proses pembumianya tidak lepas dari berbagai aspek yang mengiringi dan melatar belakanginya. setiap konteks dan Azbabunnuzul yang mendahului pasti ada konflik yang di potret Al Qur’an untuk dijadikan ibrah (pelajaran) bagi generasi berikutnya.

Sesuai dengan fungsi yang di tuliskan di atas Al Qur’an sebagai petunjuk, di harapkan manusia dengan bimbingan Al Qur’an mampu menciptakan tatanan kehidupan yang  baik,  harmonis serta memberi rahmat bagi seluruh alam.

Inilah sebenarnya makna esensi agama dan Al-Qur’an sebagai  pedoman yang harus selalu di jaga dan di refleksikan bersama , keberadaan Al Qur’an tidak cukup hanya di baca dan hafalkan tapi upaya pemahaman dan  implementasi nyata  dalam  kerja merupakan kewajiban. Bahkan islam sendiri mengecam umatnya yang kelihatan secara dhohir menjalankan perintah agama yang sifatnya transenden, menjalankan syariat tapi tidak melakukan kerja-kerja sosial yang berkaitan dengan makhluk lainya. Karna fungsi di turunkanya Al Qur’an tidak hanya sebagai peraturan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik namun juga kehidupan dunia yang sama-sama seimbang.

Hal ini terekam jelas dari berbagai ayat dalam Al Qur’an salah satunya dalam surat Al ma’un yang mengencam orang yang beribadah kepada Tuhan tapi melupakan tanggung jawab sosial, menurut sebagian besar ulamak surat yang di turunkan berkenaan dengan tokoh kaum musrikin pada saat itu Abu Sofyan, yang setiap minggunya memotong onta kemudian dagingnya di bagikan kepada temannya-temanya, tapi ketika ada seorang anak yatim datang meminta malah mendorong dan menhardiknya. Kontek inilah yang melatarbelakangi surat ini di turunkan.

Baca:  Buku Sebagai Mercusuar Peradaban
Sedang memuat...