Jerat Konsumerisme dalam Merayakan Lebaran

0
341
Jerat Konsumerisme Menjelang Lebaran
Jerat Konsumerisme Menjelang Lebaran

“Baju baru Alhamdulillah dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa masih ada baju yang lama”

Masih ingat dengan lirik lagu di atas atau pernah dengar?, sepenggal lagu diatas mengingatkan kita substansi dari lebaran bukan terletak pada baju barunya melainkan kebaruan jiwa kita, jiwa yang fitri.

Kalimat demikian pula yang sering kita dengar diceramah-ceramah ustadz di masjid-masjid menjelang lebaran. Namun demikian hal tersebut tak lagi populer dalam realitasnya, keinginan memiliki sesuatu yang baru di hari raya seakan sudah menjadi kebutuhan konsumsi.

Benarkah demikian?, ini relaitas yang kita alami sekarang, setiap kali menjelang lebaran ratusan Mall-mall, grosir sampai pedagang eceran menggelar diskon menggila untuk menggugah syahwat untuk berbelanja. Dari perspektif bisnis ini lumrah  sebagai sarana meraup keuntungan ataupun mengembalikan modal, karena dalam optik bisnis tak ada perdagangan yang mau merugi.

Bukan mau terfokus dalam masalah bisnisnya, tapi lebih menarik kita kaji sisi konsumennya, pertanyaannya salahkah perilaku demikian?, bukan bermaksud menjustifikasi perilaku sosial yang marak ini karena kebenaran bersifat subyektif.

Dalam perspektif islam lebaran atau hari raya idul fitri adalah titik balik dimana kemenangan kita atas penahlukkan diri dengan proses berpuasa, sehingga lahirlah jiwa fitri yang siap berproses kembali menuju perbaikan perilaku, perbaikan perilaku yang bersifat kontra produktif kepada prilaku produktif dalam mencapai rahmat tuhan.

Baca:  FENOMENA LIBIDONOMI DAN POTENSI KEKERASAN SEKSUAL
Sedang memuat...