Sumber Mata Air, Bukan Sumber Air Mata

0
307
warga kendeng
warga kendeng

Boleh di bilang, pegunungan Kendeng merupakan tanah surga di dunia yang menyimpan berbagai keindahan dan potensi alam yang sangat melimpah. Masyarakat sekitar juga memanfaatkan sumber mata air yang terletak di lereng-lereng gunung kendeng. Mata air tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan mineral masyarakat sehari-hari yang disalurkan melalui pipa-pipa hingga ke pemukiman warga. Tidak hanya itu, sumber mata air juga digunakan untuk irigasi atau mengaliri sawah para petani dan untuk mencukupi kebutuha ternak masyarakat.

Dari sumber mata air pula, masyarakat berinisiatif untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang sampai sekarang masih berfungsi. Mata air itu mengalir dari dalam gua dengan volume air sangat tinggi, bahkan air cukup untuk memenuhi hajat mahluk hidup sekitarnya. Seperti hanya sumber mata air yang berada di gua pancur, kandungan airnya dimanfaatkan untuk lahan pertanian, peternakan, dan kebutuhan manusia.

Ketika musim kemarau tiba, sumber mata air yang tersebar di pegunungan Kendeng utara yang menghadap di kabupaten Pati (Kayen,Sukolilo dan Tambakromo) tidak pernah menyusut airnya. Meskipun panas yang begitu menyengat dengan potensi hujan yang sangat sedikit, tapi sumber mata air di pegunungan Kendeng tidak pernah surut, ia tidak pernah mengenal musim. Menurut Ahmad (20/3/2016), salah satu warga Sukolilo yang aktif dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), sumber tama air di kawasan Kendeng sebagian ada yang musiman dan sebagian lagi ada yang tidak mengenal musim.

“rata-rata sumber mata air di pegunungan Kendeng tidak mengenal musim. Tetapi ada juga yang sumberhnya hanya mengeluarkan air ketika musim penghujan saja. Pada saat musim hujan sendiri, sumber mata air sangat mudah untuk di dapatkan. Anda tinggal menggali tanah 30 cm saja sudah mengeluarkan sumber mata air.” Tegasnya.

Diantara sumber mata air yang tidak mengenal musim di kacematan Sukolilo adalah adalah sumber Sentul, sumber Gua Wareh, sumber Asem Bosok, sumber Geneng, sumber Plosokuning, sumber Reco, sumber Gemblung, sumber Dandang, sumber Mbendo, sumber kali Sumber, sumber Gua Bandung, sumber Angling Darmo, dan sumber Widodaren.

Baca:  Refleksi Hari Bumi

Sedangkan sumber maat air aktif yang berada di kecamatan kayen adalah sumber Dodo, sumber banyu Racah, sumber Sendang, Sumber mangin, sumber `Sumber`, sumber Goboyo, sumber jerk wangi, sumber tanggangan, dan sumber Buran. Sumber mata air yang bnerada di kecamatan tambakromo adalah Sendang lanang, Sendang Klumpit, dan sumber pakis.

Masyarakat selalu berupaya untuk melestarikan kekayaan alam berupa sumber tama air yang menjadi penghidupan masyarakat sekitar ini. Termasuk didalamnya adalah gua-gua yang terdapat di pegunungan Kendeng utara. Diantara gua-gua tersebut ada yang aktif dan ada yang tidak aktif. Sebagaimana penjelasan Ahmad, gua dikawasan Kendeng memang banyak sekali, tetapi hanya sedikit yang baru diketahui oleh masyarakat sekitar pati.

“ada banyak gua yang tersebar di pegunungan Kendeng Utara. ada gua yang aktif dan ada gua yang tidak aktif. Dikatakan gua aktif karena mengeluarkan sumber mata air dengan vulume air cukup besar. Sedangkan gua tidak aktif adalah gua yang tidak mengeluarkan sumber mata air, atau mengeluarkan tetapi dengan voluem air sedikit. Gua tidak aktif ini justru lebih banyak dibandingkan dengan gua yang masih aktif. Kedepannya, masyarakat sekitar berencana untuk meberdayakan gua-gua tersebut agar menjadi obyek wisata yang dapat menarik para peunjung.” Tangkasnya.

Satu hal yang menjadi kehawatiran masyarakat sekitar adalah ketika pegunungan Kendeng eksploitasi oleh pabrik semen. Pemerintah daerah kabupaten Pati sudah mengeluarkan izin penambangan batu kapur dan tanah liat di kawasan pegunungan Kendeng utara yang meliputi tiga kecaatan, yaitu Kecamatan kayen, Kecamatan Tambakromo, dan kecamatan Sukolilo.  Ketiga kecamatan ini dalam Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Rang Wilayah  Kabpaten Pati Tahun 2010-2030, disebutkan dalam pasal 59 terkait dengan Kawasan Peruntukan Pertambangan.

Baca:  Kejahatan dan Nafsu Kebinatangan

Masyarakat meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati untuk segera merevisi Perda Nomor 5 tahun 2011 tersebut agar kecamatan Kayen, Tambakromodan Sukolilo dikembalikan menjadi kawasan pertanian dan ekowisata, bukan kawasan peruntukan pertambagangan.

Rencana pendirian pabrik semen dan penambangan baru kapur oleh pabrik semen tersebut mendapatkan reaksi dari masyarakat yang tidak menginginkan alamnya di rusak dan di tambambang. Masyarakat yang tergabung dalam JMPPK secara tegas menolak adanya pembangunan pabrik semen di kawasan pegnungan Kendeng tersebut. sebab, penambangan akan mengakibatkan kerusakan hutan, sumber mata air perlahan hilang, lahan pertanian hilang, dan kekayaan alam lainnya juga akan hilang. Perlahan,semakin diekslpoitasi Gunung Kendeng juga akan hilang.

Masyarakat tidak ingin dengan banyaknya sumber mata air tersebut kemudian berubah menjadi sumber air mata lantaran adanya pendirian pabrik semen yang akan menambang batu kapur di pegunungan Kendeng tersebut. [Cho/Ntz]

Sedang memuat...