Terkikisnya Budaya Baca Mahasiswa

0
154
netizenia.com

Dalam tradisi ilmu pengetahuan, membaca merupakan episentrum untuk meningkatkan intelektualitas manusia, terutama bagi mahasiswa. Membaca selalu identik dengan buku dan setelah itu menuliskannya.  Tradisi membaca juga selalu diiringi dengan tradisi diskusi yang terkadang sampai menimbulkan debat alot antara mahasiwa-mahasiwa tersebut. Kenyataan seperti ini banyak terjadi pada Era 90-an, Yogyakarta menjadi pusat budaya membaca dan diskusi mahasiswa. Dengan kata lain, kelompok-kelompok diskusi bak jamur dimusim hujan.

Namun, melihat Mahasiswa sekarang ini, budaya membaca dan diskusi nampak mulai terkikis. Kelompok-kelompok diskusi di kampus-kampus juga bisa dihitung dengan jari. Toh kalau ada kelompok diskusi, itu hanya diikuti oleh beberapa Mahasiswa saja. ini menjadi pertanyaan besar bagi Mahasiswa yang ditimang-timang sebagai agent of change. Mahasiswa yang mampu memberikan perubahan terhadap arah bangsa Indonesia kedepan yang lebih maju.    
Secara historis, melacak lebih jauh akar peradaban membaca umat Islam adalah ketika Tuhan menurunkan wahyu kepada Muhammad yang berupa surat iqra`yang  artinya, bacalah. jika dirasionalisasikan, Muhammad bukanlah manusia yang bisa membaca dan menulis. Pertanyaanya, kenapa Tuhan memberikan wahyu kepada muhammad berupa surat iqra`? Bagi penulis, ini merupakan rambu-rambu peradaban keilmuan yang digariskan oleh Tuhan untuk umat manusia.  Jadi peradaban dimulai dengan membaca dan kemudian menulis.
Pengertian budaya membaca, sering kali kita sinonimkan dengan “membaca buku” atau budaya “literasi”. Pada esensinya, membaca adalah melihat buku maupun realitas sosial yang kemudian kita bisa memperoleh maknanya. Bagi Mahasiwa maupun para pelajar lainnya, membaca buku  masih menjadi episentrum untuk meningkatkan kualitas keilmuan. Sebab dengan membaca buku itulah, mereka akan tau tentang banyak hal.
Menurut penelitian di Amerika serikat (AS) yang dilakukan di Harvard University mengenai pengaruh membaca terhadap kualitas anak bangsa disebutkan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa ditentukan pada apa yang dibaca oleh anak-anak negeri yang bersangkutan pada kurun waktu 20 tahun sebelumnya. Bisa dikatakan, nasib keilmuan Indonesia kedepan adalah tergantung pada para pelajaar saat ini, apakah mereka mempunyai hirah untuk  membaca atau hanya sekedar ke kampus dan kost.
Membaca sebenarnya adalah sebuah proses dekoding. Dalam semiotika, pembacaan berarti memahami bagaimana suatu tanda terkait dengan tanda yang lainnya dalam suatu struktur budaya. Esensi dari sebuah pembacaan adalah bagaimana manusia mendapatkan makna. Inilah yang perlu kita pahami sebelumnya. Pembacaan bukan ritual sehingga tak perlu ditetapkan hari untuk melakukan kegiatan mebaca. Esensi membaca adalah proses mencari makna yang berkontribusi bagi kehidupan si pembaca (Mahasiswa).
Seorang filosof kebangsaan Prancis, Martin Heidegger pernah mengungkapkan pemikiran bahwa barang siapa mencari kedalaman, mulailah dengan yang dangkal-dangkal dan melihat kedangkalan dengan tatapan yang cermat dan dalam, maka kedalaman itu akan muncul dari hal-hal yang bersifat permukaan. Dalam ungkapan Heidegger tersebut, tersirat sebuah proses membaca. Pembacaan terhadap suatu realita ternyata memiliki hirarki intensitas yang membedakan pembacaan satu dengan lainnya. ada yangmembaca sebatas permukaan namun ada pula yang mempu permukaan secara mendalam (Audifax, 2008).
Tulisan ini menjadi refleksi bersama terkait semakin terkikisnya budaya membaca, menulis, dan diskusi di kalangan mahasiswa. Untuk memutar kembali zaman tentulah tidak mungkin bisa dilakukan, tapi untuk mencipta peradaban yang lebih baik sangtalah mungkin untuk kita lakukan, yaitu melalui budaya membaca.   [Cho/Ntz]
Baca:  Megalodon, Ikan Purba Paling Berbahaya
Sedang memuat...